Asmen PLN APJ Jember Lecehkan Wartawan

Peristiwa

Main Bongkar Travo Sembarangan

Asmen PLN APJ Jember Lecehkan Wartawan

Memo Timur Online | Kamis, 24 Oktober 2013 - 01:38:50 WIB | dibaca: 406 pembaca

Jember, Memo - Sikap arogan dan diskriminatif kepada wartawan ditunjukkan oleh Assisten Manager Pelayanan dan Administrasi PLN Jember, Ade Dewanto.

Saat hendak dikonfirmasi soal aksi main bongkar Travo di Desa/Kecamatan Sumberjambe sikapnya justru terkesan melecehkan tugas wartawan.
Kedatangan wartawan ke kantor PLN Jember  usai mendapat keluhan dari Eko Nurcahyono, Warga Dusun Pasar RT2 /RW2, Desa/Kecamatan Suberjambe, karena gardu travo di tempat usahanya di bongkar tanpa terlebih dahulu konfirmasi kepadanya.
Akibat kejadian itu, Rabu (23/10) kemarin, dirinya Mendatangi Kantor PLN Area Jember yang ada di jalan Gajah Mada untuk menanyakan perihal pembongkaran Travo di tempat usahanya. Namun usahanya untuk mendapatkan penjelasan dan layanan dari pihak PLN buntu alias tak menemukan jalan keluar.
“Saya kecewa dengan PLN mas, sebab saya melakukan pemasangan gardu travo itu sudah mengeluarkan biaya banyak dan belum sempat menggunakan kok tiba-tiba dibongkar karena mempunya tunggakan” ujar Eko kepada wartawan.
Eko menjelaskan bahwa dirinya tanggal 13 Februari 2013 lalu melakukan penyambungan aliran listrik dengan kapasitas 66.000 VA dengan tegangan 380 volt, penyambungan sebesar ini dikarenakan dia ingin membuka usaha pengelolaan kayu di desanya dengan pemasangan gardu travo itu ia juga sudah mengeluarkan Biaya Pasang (BP) sebesar Rp. 51.156.000 dengan pembayaran melalui Bank Bukopin.
Dua bulan setelah dirinya melakukan BP, pihak PLN melakukan pemasangan Travo dan box meter, namun pada saat itu petugas yang melakukan pemasangan mengatakan bahwa Travo tersebut masih belum bisa dipakai atau salurkan ke Panelnya.
“Karena petugas mengatakan belum aktif ya saya tidak menjalankan operasional usaha ini mas. Kok tiba-tiba bulan September kemarin travo di tempat usaha saya sudah hilang, setelah saya tanyakan ke CV yang menangani instalasi listrik di usaha saya, saya malah diberi surat pemutusan dari PLN dikarenakan saya menunggak 4 bulan dengan tanggungan sebesar kurang lebih 10 juta,” katanya.
Apalagi yang membuatnya kecewa, mulai dilakukan pemasangan ia tidak pernah sama sekali menggunakan aliran listrik tersebut. Malah belakangan kata dia, tiba-tiba PLN mengambil travo karena ada denda empat bulan yang tidak di bayar,” katanya.
Iapun mencoba mengalah dengan membayar denta yang tidak sepatutnya ia bayar tersebut agar travo kembali terpasang. Sayangnya ia kembali diminta untuk melakukan proses pemasangan baru dengan biaya sebesar Rp. 51 juta.
Eko juga menyesalkan pihak PLN yang menurutnya tidak memberikan jalan keluar, “Saya sudah tanya ke PLN APJ Jember, katanya tidak bisa dipasang lagi kecuali saya harus mengajukan pemasangan baru dengan biaya 51 juta itu mas,” ujar Eko.
Sementara dari pihak PLN Area Jember Melalui Asmen Pelayanan & ADM, Ade Dewanto saat dikonfirmasi wartawan tidak banyak memberikan penjelasan, “Semua sudah sesuai prosedur mas,” kata Ade tanpa banyak memberikan penjelasan lagi sambil meninggalkan wartawan.
Bahkan Ade sebelum meninggalkan wartawan sempat mengatakan enggan di konfirmasi dengan wartawan lokal. “Saya tidak mau dikonfirmasi dengan wartawan lokal,” ujarnya sambil menyebut salah satu media lokal di Jember. Jelas sikap Ade ini sama sekali tidak menghargai kinerja Jurnalis yang terkesan diskriminatif.(ami)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar